Peluang dan Strategi Industri Alat Berat

Seiring dengan pelemahan industri bisnis batu bara, ini membuat bisnis alat berat menjadi ikut melambat. Karena industri ini merupakan penyerap utama dari alat – alat berat. Permintaan alat berat secara volume di tingkat nasional terjadi penurunan sekitar 22% year on year pada tahun ini.

Harga pada komoditas batu barayang belum tekoreksi menjadi faktor dari pendorong lesunya penjualan batu bara. Selain itu, pelaku industri juga melakukan antisipasi dari kemungkinan untuk resesi global di tahun depan yang bisa mengancam penundaan investasi pada bidang komoditas.

Tetapi demikian, banyak yang masih mengupayakan penjualan pada segmen selain pertambangan, seperti misalnya Crude Palm Oil dan kontruksi. Mandatory penggunakan B30 yang diharapkan bisa menjadi katalis positif sawit dan merangsang permintaan alat berat pada sektor itu.

Sedangkan dari faktor kontruksi yang menjadi sektor menjanjikan selain pertambangan, terdapat rencana pemindahan ibu kota baru ke Kalimantan memiliki peluang untuk menaikkan bisnis alat berat. Tetapi dampaknya belum dirasakan hingga tahun ini, mungkin akan terasa di tahun 2021 karena proyeknya sendiri akan dimulai pada tahun tersebut.

Ditambah juga dengan pemerintah yang memiliki komitmen untuk terus melanjutkan pembangunan infrastruktur yang sudah mulai dilakukan sejak 5 tahun lalu. Namun masalahnya kebutuhan industri alat berat pada sektor ini tidak sebesar di pertambangan. Proyek – proyek yang dalam skala besar juga cenderung berkurang.  Perusahaan juga memperkuat segmen bisnis purnajual, seperti perawatan mesin dan sparepart.

HEXA diketahui menekankan penjualan pada alat berat untuk jenis eskavator sejumlah 1.916 unit untuk tahun fiskal April 2019 – Maret 2020, turun 7.4% yang di mana pada tahun fiskal sebelumnya, perseroan mencatat penjualan 2.071 unit eskavator. Lebih rendah dari target 2.600 unit.

Diharapkan bisnis alat berat bisa lebih stabil, khususnya di tahun 2020 yang kini sedang melesu ekonominya ditengah pendemi corona.

Di tahun 2018 pada periode yang sama, sebenarnya volume penjualan alat berat INTA sudah mencapai 722 unit dan 299 unit, diantaranya adalah alat berat pada sektor pertambangan. Itu artinya, penjualan alat berat INTA turun hingga 31.44% yoy pada kuartal ke 3 2019.

Rencana pembangunan ibu kota benar – benar diharapkan dapat menjadi penunjang penguatan sektor industri alat berat, khususnya di bidnag kontruksi dan infrastruktur. Alat berat memang menjadi memiliki peluang mengisi sektor bisnis itu.

Kalau pemindahan ibukota melibatkan banyak aktivitas, tentunya akan membutuhkan sejumlah alat berat dan persiapannya akan bertahap, tentu kebutuhan alat akan langsung tinggi.

Perihal target hingga tahun 2021, belum ada detail pasti mengenai hal tersebut.

Sebenarnya kelesuan ekonomi yang terjadi di tahun 2020 sudah diprediksi sejak tahun lalu. Itu membuat ada sektor andalan dalam usaha ini, yaitu pendapatan dari lini usaha mesin kontruksi yang bisa menyumbang hingga 28%.

Jika pemerintah terus memfokuskan pada pembangunan infrastruktur yang diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi sampai permintaan alat berat pada sektor kontruksi akan bisa tetap tumbut. Diupayakan nantinya bis ameningkatkan penetrasi dan coverage, juga meningkakan layanan purna jual yang khususnya pada sektor kontruksi.

Penjualan alat berat pada tahun 2020 memang menurun, seiring dengan melesunya ekonomi yang sekarang ini tengah terjadi. Jadi perusahaan alat berat sebaiknya menyiapkan taktik yang dapat membantu penjualan alat berat.

Semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk Anda semuanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *